Dekonstruksi Nilai Budaya dan Agama dalam Sexual Abuse

Oleh: Untung Tri Winarso, M.Si.

Pekerja sosial harus sensitif dengan sistem kepercayaan klien dan tidak secara otomatis berasumsi bahwa kepercayaan tersebut dalam sistem, tanda dari gangguan psikologis. Pendapat diatas sebagai pertimbangan seorang pekerja sosial dalam mengambil keputusan menyelesaikan kasus. Dalam hal ini ilustrasi kasus pelecehan seksual yang terjadi pada Intan (bukan nama sebenarnya), seorang korban/penyintas bencana oleh salah seorang ustadnya.

Kasus percobaan perkosaan atas Intan yang dilakukan salah seorang ustad di pesantren adalah termasuk dalam perlakuan salah terhadap anak secara seksual (sexual abuse) atau pelecehan seksual. Pelecehan seksual terhadap anak sendiri dapat berupa perlakuan pra-kontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata-kata, sentuhan, gambar visual, exhibitionism), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi seksual. Sedang Dubois menambahkan prostisusi anak termasuk dalam kategori child abuse.

Dalam kasus tersebut, nilai budaya dan
agama yang melingkupinya sangat berpengaruh terhadap penyelesaian kasus. Dimana nilai budaya dan agama yang dipercaya sangat mempengaruhi praktik pekerja sosial, alih-alih pekerja sosial juga harus sadar bahwa nilai budaya dan etnis klien dapat berpotensi menimbulkan konflik dengan nilai yang dianut oleh pekerja sosial. Dengan pertimbangan diatas diatas, pekerja sosial harus berhati-hati, menghargai budaya, cermat menangani kasus demi kasus.

Nilai pelayanan terhadap yang membutuhkan dan menyelesaikan masalah sosial sudah menjadi misi utama pekerja sosial dengan berbagai metode, praktik, dan pendekatan. Bekerja pada lingkungan masyarakat Jawa akan berbeda pendekatan dan penanganannya bekerja pada lingkungan masyarakat di Papua, Aceh, dan sebagainya. Adaptasi dengan lingkungan sekitar beserta ragam nilai budaya dan agama menjadi faktor yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik pekerjaan sosial. Keragaman budaya, etnis, suku, bangsa, dan bahasa yang dimiliki Indonesia menjadi kekuatan sumber daya tersendiri bagi keberhasilan praktik pekerjaan sosial. Ditinjau dari keragaman nilai agama, kepercayaan dan agama yang ada di masyarakat menjadi salah satu jaringan pendukung penguatan klien.

Di sisi lain, nilai agama yang dianut oleh
masyarakat terkadang menjadi boomerang bagi pekerja sosial dan klien untuk mengusahakan keadilan sosial. Bias nilai yang diyakini oleh pekerja sosial yang tentunya juga meyakini nilai-nilai agama yang dianut juga menjadi perdebatan dalam diri pekerja sosial sendiri. Prasyarat yang sepatutnya dilakukan adalah tidak memaksakan nilai pekerjaan sosial, nilai budaya, dan nilai agama yang dianut oleh pekerja sosial kepada klien atau masyarakat, penghormatan pada nilai budaya dan agama yang dianut oleh klien dan masyarakat menjadi mutlak dilaksanakan oleh pekerja sosial.

Nilai-Nilai Penting
Nilai pertama yang menjadi dasar pelayanan adalah keadilan sosial. Nilai ini berimplikasi pada penghapusan segala bentuk penindasan, diskriminasi, pemenuhan hak dan kewajiban. Perlakuan salah terhadap anak (child abuse) yang terjadi pada Intan dapat dikategorikan sebagai perlakuan salah secara seksual (sexual abuse) oleh orang yang lebih kuat, lebih tua, lebih dihormati yaitu ustadnya sendiri di pesantren tempat Ia belajar.

Perlakuan salah yang terjadi pada Intan merupakan bentuk dari penindasan terhadap hak-hak anak yang seharusnya dilindungi, diayomi, memberikan akses pendidikan yang luas sebagai salah satu kaum rentan.

Apalagi Intan dan ibunya berada dalam kondisi sebagai penyintas akibat bencana yang ditinggal oleh ayahnya, sedang keluarga Intan juga berada dalam kemiskinan akut dengan segala keterbatasan ingin menyekolahkan Intan dengan biaya yang murah. Pilihan tinggal di pesantren barangkali sebagai alternatif pembiayaan pendidikan yang dapat dijangkau oleh perekonomian keluarga.

Tindakan pelecehan seksual tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan, salah satunya bahwa keluarga sangat rentan berhak didahulukan mendapat bantuan dan pelayanan sosial. Sebagai seorang ustad tentunya mengetahui nilai dan etika ajaran Islam dengan sangat baik, harapannya mampu membedakan hal baik dan buruk atau benar dan salah. Namun perilaku dan perbuatannya tidak mencerminkan sebagai panutan masyarakat yang dapat memberi contoh perbuatan baik. Dengan kata lain, perilaku pelecehan seksual sangat bertentangan dengan nilai ajaran agama.

Nilai ini sangat mungkin diterapkan mengingat pandangan umum masyarakat telah meletakkan pelecehan seksual terhadap anak pada pelanggaran kemanusiaan. Dengan demikian berarti segala bentuk pelanggaran terhadap kemanusian merupakan bentuk ketidakadilan sosial. Solidaritas masyarakat terhadap pelanggaran kemanusiaan terutama kelompok sangat rentan akan segera muncul sebagai bentul penerimaan (acceptance) langkah-langkah yang ditempuh oleh pekerja sosial.

Hambatan yang muncul adalah ketika masyarakat belum mengerti secara luas tentang peran dan keterlibatan pekerja sosial dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Penerimaan orang luar untuk menangani kasus dan masalah menjadi hambatan lainnya, sebab pekerja sosial dianggap akan membongkar dan merusak system nilai yang telah lama menjadi pedoman masyarakat setempat.

Nilai yang kedua ialah martabat dan diri manusia. Dalam menangai kasus ini penghargaan terhadap keaneragaman budaya dan agama dalam masyarakat menjadi pandangan yang melandasi pengambilan keputusan. Peran pekerja sosial dalam melakukan terapi/konseling ataupun layanan sosial lainnya lebih berstatus sebagai fasilitator dalam penanganan masalah, sedangkan keputusan dan pilihan tindakan yang akan dilakukan oleh klien diserahkan pada klien untuk mengambil jalan terbaik.

Sebaliknya, perlakuan diskriminatif, streotipe, tidak mengadili (nonjudgmental) pada korban karena tidak berani untuk menceritakan masalah yang terjadi dan tidak bisa mengeluarkan Intan dari pesantren karena alasan ekonomi sedapat mungkin tidak terjadi dalam praktik pekerjaan sosial. Pemberian motivasi, bimbingan, penjelasan solusi alternatif justru diperlukan oleh Intan dan keluarganya.

Nilai diatas dapat diterapkan apabila keluarga Intan telah terbuka dan menerima kedatangan pekerja sosial yang akan membantu menyelesaikan masalah. Dengan kehangatan dan rasa empati pekerja sosial dapat membantu klien menerima kedatangannya, apabila pekerja sosial datang dengan sikap dingin, tidak ramah, menempatkan dirinya yang paling tahu maka dapat dipastikan keluarga Intan tidak dapat menerima dengan baik. Peran pekerja sosial dalam hal ini mendorong kepercayaan diri keluarga Intan untuk dapat memutuskan pilihan yang terbaik bagi masa depan Intan.

Nilai ketiga yaitu pentingnya relasi antar manusia. Nilai ini penting menjadi pegangan pekerja sosial dalam menangani kasus diatas, sebab dapat menguatkan peran keluarga dan perubahan. Perubahan disini berarti mendorong keluarga untuk dapat kritis terhadap kondisi dan situasi yang terjadi melalui pendidikan kritis dan penyadartahuan bahwa Intan telah mengalami perlakuan salah di dunia pendidikan. Upaya perubahan pada keluarga intan ini dapat menjadi kekuatan tersendiri, keculi sekedar menyelesaikan masalah.

Perubahan pola pikir dari magis ke pola pikir kritis memang tidak dapat diwujudkan dalam waktu yang singkat. Hal tersebut terkait juga dengan budaya masyarakat setempat dan lingkungan sekitar dalam menanggapi berbagai persoalan sosial, keterkaitan antara nilai dalam keluarga dan lingkungannya adalah sebuah sistem yang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

Peran pekerja sosial dalam membangun relasi dan keberfungsian masyarakat dapat melalui kampanye penyadartahuan tentang kesetaraan berpendapat dan bersuara antara laki-laki dan perempuan, antara keluarga miskin (the have not) dan keluarga kaya (the have), antara masyarakat awam dan para pemuka agama.

Nilai diatas dapat diterapkan dimulai dari lingkungan keluarga terlebih dahulu yang akan meyebar pada lingkungan masyarakat secara umum. Apabila ibu Intan dapat menyuarakan penderitaan yang dialami anaknya pada orang yang tepat, minimal masyarakat akan memberikan rasa solidaritas dan empati pada penderitaan Intan.

Namun apabila budaya masyarakat masih menempatkan pemuka agama sebagai orang yang terpandang dan bebas dari semua kesalahan, dengan kata lain cara pandang masyarakat belum memiliki daya kritis bahwa seorang pemuka agama juga manusia biasa yang dapat berbuat salah dan layak diproses dengan hukum. Maka nilai diatas memerlukan proses penyadartahuan yang lebih lama jangka waktunya dan strategi baru dalam pelaksanaannya.

Nilai yang terakhir sebagai tambahan adalah penghargaan terhadap keaneragaman budaya dan agama yang dianut dan dipercayai oleh masyarakat. Pekerja sosial tidak dapat memaksakan nilai yang dianut dapat diterapkan atau dipercaya juga oleh klien dan masyarakat luas. Pemahaman dan kesadaran bahwa orang lain berbeda cara pandang, ideologi, kepercayaan merupakan cara pandang yang seyogianya diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial. Mengingat kita sendiri hidup dalam sistem budaya multikultural yang meniscayakan perbedaan cara pandang, nilai, paradigma, dan kepercayaan yang menambah kekuatan dalam masyarakat.

Keempat nilai penting dalam penanganan kasus Intan tersebut secara keseluruhan dapat diterapkan dalam praktik pekerjaan sosial dengan adanya sinergi antara pekerja sosial dan klien. Sinergi tersebut terwujud dalam penghargaan atas nilai keluarga, klien, dan budaya serta agama. Sikap terbuka dan proaktif dari klien juga menjadi faktor penentu keberhasilan praktik, tidak terkecuali penerimaan masyarakat dengan sikap kritis dan usaha menyelesaikan masalah.

Hambatan-Hambatan Budaya
Budaya ketimuran yang menjadi nilai sebagian besar masyarakat Indonesia masih bercokol kuat dalam segala aktivitas sosial, ekonomi, politik. Tidak terkecuali ketika menangani kasus sosial seperti pelecehan seksual terhadap anak. Sikap menutup-nutupi kejelekan (aib) sebagai hal yang memalukan jika diungkap, menghormati orang yang lebih tinggi strata sosialnya terkadang mengorbankan masa depan anak sebagai korban yang dilingkupi trauma psikologis dan fisik.

Secara lebih detil Edi Suharto merinci berbagai hambatan budaya maupun sistem yang masih melekat pada masyarakat:
Penolakan korban sendiri. Korban tidak melaporkan kasusnya karena takut akan akibat yang kelak diterima baik dari si pelaku (adanya ancaman) maupun dari kejadian itu sendiri (traumatis, aib).

Manipulasi dari pelaku. Pelaku yang umumnya orang yang lebih besar (dewasa) sering menolak tuduhan (setidaknya di awal proses penyelidikan) bahwa dia adalah pelakunya. Strategi yang digunakan adalah pelaku menuduh anak melakukan kebohongan atau mengalamu “wild imagination”.

Keluarga yang mengalami kasus manganggap perlakuan salah terhadap anak sebagai aib yang memalukan jika diungkap secara umum.

Anggapan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan urusan keluarga (hubungan orang tua-anak, suami-istri) tidak patut dicampuri oleh masyarakat.

Masyarakat luas tidak mengetahui secara jelas “tanda-tanda” pada diri anak yang mengalami child abuse.

Sistem dan prosedur pelaporan yang belum diketahui secara pasti dan jelas oleh masyarakat luas.

Merebaknya berbagai kasus pelecehan seksual terhadap anak bagaikan fenomena gunung es, artinya sulit penyelesaian baru sebatas di permukaan dan masih sangat banyak berbagai kasus yang terjadi yang belum terungkap. Nilai-nilai budaya dan agama yang seharusnnya menjadi sumber kekuatan dalam menyelesaikan permasalahan sosial malahan menjadi penghambat.

Pada kasus Intan, hambatan budaya dan agama yang sangat dominan adalah menutup aib keluarga dan pelaku pelecehan karena dianggap hal yang sangat memalukan jika diungap ke ruang publik.

Ajaran Islam memang memerintahkan atau melarang seorang muslim dengan muslim lainnya saling mengolok, menggunjing, mengejek, dan membuka aib. Hal tersebut termaktub dalam al-Qur’an Surah al-Hujarat (49) ayat 11-13, yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Perintah Tuhan yang ada dalam kitab-Nya tersebut menjadi alasan sebagian besar umat muslim ketika mengalamu masalah sosial, baik itu berkaitan dengan pribadi, keluarga, ataupun masyarakat secara luas. Aib diartikan sebagai kejeleken asusila yang terjadi di keluarga, komunitas, masyarakat yang wajib ditutup rapat-rapat. Seseorang yang tidak dapat menutup aib diri dan komunitasnya mendapat streotype orang yang tidak bermoral dan tidak dapat menjaga lidah. Akibat turunannya adalah akan dikucilkan oleh komunitasnya sebagai sangsi sosial tidak tertulis yang lebih berat dampak psikologinya.

Hambatan yang kedua adalah rasa penghormatan yang lebih kepada seorang yang memiliki strata sosial lebih tinggi. Seorang ustad (guru agama) dalam masyarakat menempati strata sosial lebih tinggi dari pada masyarakat umum (awam), sebab Ia sebagai tokoh informal yang menjadi problem solver ketika terjadi masalah, tempat bertanya baik masalah dunia dan akhirat, dan diikuti perkataan dan perbuatannya karena menguasai ilmu agama lebih luas dari pada masyarakat umum.

Ketidakberanian keluarga Intan untuk melaporkan kasus tersebut kemungkinan didasari rasa segan dampak dari penghormatan berlebihan yang mengarah pada pengultusan individu. Kemungkinan kedua ketika keluarga Intan melaporkan kasus pelecehan tersebut khawatir akan adanya ancaman dari pelaku atau orang-orang di sekitar pelaku yang lebih kuat dan tinggi strata sosial, ekonomi, dan politik. Namun sebaliknya apabila seorang pemuka agama diketahui secara terang-terangan melakukan tindakan asusila, maka sangsi sosial yang diberikan oleh masyarakat lebih dahsyat dari pada masyarakat umum.

Hambatan ketiga adalah budaya kemiskinan yang cultural/magis yang meyelimuti keluarga Intan. Agar Intan tidak dikeluarkan dari madrasah yang berakibat Intan tidak bersekolah maka keluarganya menyuruh tetap tinggal di pesantren tersebut. Jika Intan keluar dari pesantren, tentu Ibunya akan kerepotan mencari sekolah dan mengeluarkan biaya mahal.

Demi masa depan, Intan harus meneruskan pendidikan walau dengan keterpaksaan dan trauma psikologis serta gangguan mental lainnya—bisa saja prestasi belajar menurun, tidak dapat bergaul dengan teman-teman sebayanya dengan wajar, tidak bersemangat sekolah, dan bahkan sampai percobaan bunuh diri yang akhir-akhir ini marak dilakukan anak SD.

Budaya kemiskinan magis sebenarnya sebagai imbas dari kemiskinan yang menyebabkan seseirang menjadi pasrah pada keadaan (nrimo ing pangdum), tidak berdaya terhadap kekerasan yang dilakukan orang yang lebih kuat, dan sebagainya. Keluarga miskin selalu menempati posisi terendah dalam strata sosial masyarakat yang berimplikasi pada ketidakberdayaan secara politik, secara sederhana suara keluarga Intan tidak pernah didengar oleh masyarakat dikarenakan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Budaya korup para aparat yang berwenang menegakkan hukum dan keadilan cenderung membuat sebagian besar masyarakat enggan berurusan dengan para aparat ketika terjadi masalah. Alih-alih para aparat meminta imbalan besar ketika akan atau sesudah menangani suatu masalah. Kebingungan yang dialami oleh ibu Intan untuk melaporkan kasus pelecehan sosial tersebut sangat wajar karena apabila berurusan dengan aparat sangat bertele-tele dan penuh dengan birokrasi yang menyusahkan rakyat. Dapat pula kasus tersebut hangus karena uang yang berbicara menyelesaikan kasus tersebut.

Pendekatan family center yang berfokus pada pelayanan konseling keluarga, individu, dan group yang berkonsentrasi pada pelayanan sosial termasuk kekerasan pada keluarga, kemiskinan, dan sebagainya. Pelayanan model ini sangat mempertimbangkan antara keluarga dan lingkungan. Komunikasi antar keluarga dan keluarga dengan lingkungan sangat penting dilakukan untuk keberhasilan pekerjaan.

Dalam kasus Intan, peran pekerja sosial adalah mendorong keluarga Intan melakukan komunikasi antar keluarga dan kepada seluruh warga untuk mencari dukungan moral maupun material. Ketika lingkungan sekitar dapat memberikan empati pada kasus Intan, maka perubahan pola pikir terhadap perlakuan ustad yang cenderung ditutup-dutupi akan terbongkar yang menghambat penyelesaian kasus. Namun tetap dengan cara yang manusiawi memperlakukan pelaku.

Konseling pada anak korban dapat dilakukan dengan metode konseling the dynamic of sexual abuse. Konseling ini difokuskan pada pengembangan konsepsi bahwa kejadian sexual abuse, termasuk kesalahan dan tanggungjawab adalah berada pada si pelaku bukan korban. Anak-anak dijamin bahwa mereka tidak dipersalahkan meskipun telah terjadi kontak sosial.

Metode kedua adalah survivor/self-esteem counseling. Konseling ini menyadarkan anak-anak yang menjadi korban bahwa mereka sebenarnya bukan korban, melainkan orang yang mampu bertahan (survivor) menghadapi masalah sexual abuse. Untuk mengurangi perasaan bersalah pada anak yang tidak melaporkan kejadian, anak perlu diyakinkan bahwa hal tersebut merupakan situasi dan perasaan wajar. Konseling dapat difokuskan untuk meningkatkan kesadaran anak akan kekuatan dan kelebihan yang dia miliki. Terapi akan merupakan pengalaman yang berharga manakala anak merasa dihargai dan diterima oleh konselor. Pada akhir sesi, perbincangan santai dan kegiatan yang menyenangkan dapat dirancang agar anak mau mengikuti sesi-sesi berikutnya.

Ketika pilihan Intan keluar dari pesantren untuk menerima pendidikan yang lebih baik dan bebas dari trauma, maka upaya yang dilakukan selanjutnya adalah pelayanan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Pelayanan pemberian kredit usaha atau santunan pendidikan menjadi rekomendasi agar Intan tidak putus sekolah.

Penyelesaian kasus Intan melibatkan beberapa faktor yang melingkupinya, tidak bisa hanya sebatas mendorong keluarga Intan melaporkan kasus pada pihak yang berwenang. Penyadartahuan komunitas akan penderitaan Intan yang mengalami trauma dan mengakibatkan Intan menjadi pendiam dan berduka. Dalam menyelesaikan kasus hal yang perlu dilakukan adalah, pertama, melakukan penyadartahuan kristis tentang nilai budaya dan agama yang menganggap aib harus ditutup, melainkan bahwa menutup aib tidak selalu benar. Upaya demitologisasi konsep menutup aib hanya pada wilayah yang tidak merugikan pihak lain terutama kasus pelecehan anak.

Kedua, transformasi nilai pekerja sosial harus memperhatikan nilai budaya masyarakat setempat. Ketiga, mendorong komunikasi antar keluarga dan keluarga dengan lingkungan untuk meningkatkan keberfungsian peran keluarga. Keempat, Peningkatan kesejahteraan keluarga miskin dan korban bencana menjadi pilihan layanan yang utama untuk mempercepat daya pulih masyarakat, kongruen dengan penyediaan akses pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Daftar Pustaka
Harrison, Dianne F. etc., (ed) Cultural Diversity and Social Wor Practice, Springfield. Illinois. USA: Charles C Thomas Publisher,Ltd., 1996.

Suharto, Edi, Membangun Mesyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial. Cet, II, Bandung: Refika Aditama, 2006.

DuBois, Brenda & Miley, Karla K. Social Work: An Empowering Profession, Fifth Edition. Boston: Allyn and Bacon,2005.

Reamer, Frederic G. Social Work Values and Ethics, New York: Columbia University Press, 1999.

Fong, Rowena&Sharlena Furuto (ed), Culturally Competent Practice: Skills, Interventions, and Evaluattions. USA: Allyn&Bacon, 2001.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s